Cerita Kita, Kehidupan, Perpisahan, Persahabatan, Waktu, Writing

Ku Persembahkan Untukmu

Ini bukan tentang sesuatu yang berkaitan dengan cinta segitiga.
Tapi ini dipersembahkan kepada dia, sahabat seperjuangan, yang jatuh bangunnya bersama, menjalin tali kekeluargaan bak saudara satu buyut, mengarungi hari dan malam bersama, bercerita tentang kisah cinta yang rumit, dan pada hari ini, detik ini, rasanya semua kisah yang telah terukir, luluh lantak laksana istana pasir yang dihantam sang ombak maha dahsyat.

Seperti itukah persahabatan yang begitu diagungkan, yang rela terjaga sehari semalam untuk bercengkerama tentang kejamnya dunia dan berbagi manisnya cinta?

Perasaan ini sungguh menggangguku, sebagai seorang kawan yang selalu menanti waktu bersama untuk bersenda gurau, nyatanya kini semua tak lagi sama. Tak ada lagi percakapan tentang galau-nya hati.

Waktu berlalu, dan pada akhirnya semua akan berubah. Begitu pula kisah kita yang tak lagi sama dengan kemarin.

Kemarin kita masih sempat bertatap muka larut malam, berbagi mie instan sebagai hidangan, menyeruput hangat nya kopi dan teh di tengah malam, mengukir mimpi yang hendak dicapai.

Pada hari ini, detik ini, aku masih tak kuasa menerima segala perubahan, karena pada dasarnya aku tak suka berubah.

Semua tak lagi sama, semua berbeda, dan cerita kita berhenti disana.

Disana, pada malam yang dingin, dengan lantangnya bersenda gurau tentang kehidupan yang melelahkan jiwa, adalah perbincangan terakhir sebagai kita.

Karena sekarang hanya ada kau dan kami. Bukan kita. Bukan kita yang dulu selalu bersama membeli kebutuhan untuk bercengkerama tentang semesta, bukan kita yang dulu berangan-angan tetap bersama hingga akhir hayat, bukan kita yang dulu ketika masih jadi buronan orang tua.

Waktu dengan cepat berlalu, dan kau memutuskan untuk menjauh.

Jujur, pada hari ini, detik ini, aku merindukan kehadiranmu yang berjanji akan datang ketika butuh, yang biasa ada ketika sakit, yang selalu ada ketika keadaan darurat.

Lihat, berapa dekade waktu yang telah kita habiskan bersama? Berapa peristiwa yang kita lewatkan bersama? Dan berapa banyak cobaan yang telah menerpa kita semua?

Ingatkah kau, wahai sahabatku? Setiap tempat yang telah terjamah meski hujan badai, setiap amplop yang masuk pada kotak milik mempelai wanita mengatasnamakan kita, dan setiap kepedulian terhadap mereka yang kekurangan.

Kita selalu ada, kala duka menerpa ketika kehilangan dia yang terkasih. Kita yang kadang  lari dari kenyataan karena tak kuasa menerima resikonya.

Pada hari ini, detik ini, aku harus merelakanmu. Melepaskan segala angan dan harapan yang belum sempat terwujud, dan menghempaskan segala keinginan untuk tetap bersama.

Share

7 Comments

  • Reply

    Jiah

    June 20, 2016

    Ditinggal nikah sahabat, kdg saya sedih. Soalnya mereka akan sibuk dg pasangannya

    • Reply

      Mia Fajarani

      June 20, 2016

      Iya, betul syekali. Akupun sedang bersedih hati. Bahkan 3hari stress karena di tinggal nikah😂😂

  • Reply

    Adi Setiadi

    June 20, 2016

    Saya kira setiap hubungan apapun itu kecuali hubungan suami isteri orang tua anak ada masanya dan berperiode.

    • Reply

      andhikamppp

      June 20, 2016

      Bahkan suami istri saja ada “periode waktu” nya kok mas Adi.

    • Reply

      Mia Fajarani

      June 20, 2016

      Hehe ada periode nya di setiap lini kehidulan dan taraf hubungan kok, mas.hehehe

  • Reply

    andhikamppp

    June 20, 2016

    Sedih yaa ditinggal partner in crime “pergi” dalam bentuk apapun itu. Ehm, btw aku kurang paham ini kalimat yang *setiap amplop yang masuk pada kotak milik mempelai wanita mengatasnamakan kita*.

    • Reply

      Mia Fajarani

      June 20, 2016

      Sedih bingit haha aku stress 3hari loh,gak nafsu makan dan tidur karena di tinggal nikah wkwkwkwk.
      Itu…maksudnya…kalau kondangan yang datang bertiga tapi amplop nya cuma satu, dan ditulis nama kita semua haha

Leave a Reply