Cerita Kita, Cinta, Kehidupan, Perpisahan, Writing

Andaikan saja

Andai saja kau tak memulai, dan aku tak berpartisipasi.

Andai saja kau tak datang, dan aku tak membukakan pintu.

Andai saja kau tak menyapaku, dan tak ku tanggapi.

Akan seperti apa jadinya?

Seorang wanita akan menutup pintu hatinya kepada para lelaki yang tidak dikehendakinya. Dia akan menghindar dan lebih menutup diri dari kehidupan bebas di dunia ini.

Jangan pernah memancingnya untuk membuka diri beserta hati jika kau tak punya nyali.

Seorang wanita akan mempersilakan Ia masuk ke kehidupannya secara perlahan yang juga otomatis membuka hati untuknya. Jangan pernah salahkan wanita yang selalu bermain dengan perasaan, karena wanita mementingkan perasaan ketika hendak melakukan suatu hal untuk kenyamanan bersama.

Apa jadinya jika seorang wanita tidak menggunakan perasaan ketika merawat anak-anaknya nanti?

Salah melangkah, begini jadinya. Terlalu terbuka, begini akhirnya. Should i close the door for you?

Pada akhirnya, jika kecewa sudah melanda, tangis adalah sebuah ungkapan terdalam dari hati yang tersakiti. Menangislah. Luapkan segala emosi yang ada. Setelah itu lanjutkan hidup dan kau harus mampu berdiri sendiri karena tak ada tempat untuk berbagi.

Mereka bilang kejujuran adalah suatu hal yang menyakitkan. Tapi bagi kita, kejujuran adalah kewajiban meskipun pahit terasa. Maka jujurlah, sehingga kau mampu menangis dengan segala perasaan yang ada, dan mengobati luka dengan tawa terbahak-bahak. Setelah itu beristirahatlah dengan tenang ditempat yang semestinya. Bukan pada tempat yang tak kau perlu kunjungi atau bahkan dilarang untuk kau singgahi.

Jangan lupa untuk menutup pintu dari semua pengunjung, jangan biarkan lagi ia terbuka bebas bagi wisatawan yang sedang menjelajah samudera. Karena hati bukan sebuah dermaga persinggahan, tapi sebuah pemberhentian abadi.

Share

One Comments

Leave a Reply