Kehidupan, Lifestyle, Movie, Persahabatan, Review, Writing

Diajak Bernostalgia Dengan Dilan 1990

Menonton film sembari bernostalgia pada zaman-zaman SMA merupakan sebuah hal yang jarang terjadi. Namun pada nyatanya, gue diajak kembali pada masa lalu oleh Dilan 1990. Dari setiap detil hingga berbagai macam cerita, film ini mengajak gue untuk mengingat kembali saat memadu kasih beberapa tahun lalu sebelum menjadi dewasa seperti sekarang ini.

Kalian mungkin sudah membaca novel terlebih dahulu daripada menonton filmnya, tapi gue nonton aja nggak pake baca novelnya.

Dilan 1990

Suasana 90-an dapet banget di film ini, dimana saat itu alat komunikasi masih sangat terbatas dengan telpon rumah atau berbayar. Tidak ada ponsel dalam ribuan bentuk. Hanya ada telepon kabel rumah, yang dimiliki oleh sebagian orang saja. Waktu itu gue juga nggak punya telpon rumah, jadinya nelpon di wartel, kalau telpon box jarang bangeet, soalnya jauh. HAHAHA

Dilan 1990 merepresentasikan kisah cinta dua anak remaja pada tahun 1990. Dua anak remaja yang masih duduk di bangku SMA, memadu kisah dan memperjuangkan hubungan yang manis-manis pahit. Berinteraksi di saat jam pulang sekolah, di kantin hingga curi-curi waktu dikelas.

Dulu, gue juga pernah, lewatin kelas doi cuma buat ngeliat dia lagi belajar apa, tapi nggak senekad Dilan yang masuk kelasnya Milea! HAHA.

Ada satu scene dimana Milea bertemu orang tua Dilan, dan Milea merasa yakin bahwa Bunda adalah calon mertua dan Dilan adalah calon pendamping. Seyakin itu, seteguh itu. Kembali pada zaman dahulu, saat gue duduk dibangku SMA, gue juga dikenalin ke orang tua mantan, dan beranggapan bahwa dia adalah camer gue, alias calon mertua. Segitu berbunga-bunganya gue dikenalin ke calon mertua yang padahal belum tentu masa depan gue akn berakhir dengan doi.

Apa yang Milea rasakan pernah juga gue rasakan. Dikit-dikit kangen camer, curhat dengan camer hingga berulang kali disuruh mampir. Milea, kamu nggak sendiri merasakan betapa bangganya kamu bertemu Bunda-nya Dilan saat itu. Karena rasanya, bertemu orang tua pacar adalah sebuah hal yang sangat istimewa, sang pacar mau memperkenalkan dengan gamblang “dia adalah pacarku”

Sikap protektif Milea terhadap Dilan juga tidak salah, semua demi kebaikan Dilan sendiri. Milea mencoba mencegah Dilan untuk berbuat suatu hal yang dapat membahayakan nyawanya. Begitupun gue saat itu, ketika pacar sering nongkrong malam nggak jelas ngapain, gue selalu menyuruh dia untuk nggak nongsk sampai larut malam. Tapi, ya semua pasti ada batasnya, dan pacar gue saat itu kesel karena gue suruh pulang mulu. HAHAHAH

Dilan 1990, mengingatkan saya bagaimana saya ngalusin orang lain sampai baper, baper doang, jadiannya kagak. HAHAHAHAHAHA. Kata-kata puitis nan manis ala Dilan yang diucapkan  seakan-akan membuat gue berkaca diri pada sosok Dilan. Yup, dulu saya sering ngalusin orang lain, cuma ngalusin gaes, dapet mah ya kagak. HAHAHA.

Kamu penasaran apa itu ngalus? Baca aja postingannya disini, Gaes.

Tapi, dengan frontal yang seperti itulah yang mampu membuat hati lega. Bicaralah ketika ada kesempatan dan ungkapkan jika memang harus dikatakan.

Dilan 1990, terima kasih telah mengajak gue bernostalgia kembali saat zaman-zaman sekolah dulu. Untuk Iqbaal dan Vanesha, akting kalian bagus dan bikin saya baper, apalagi tatapan Iqbaal sebagai Dilan. Yah saya klepek-klepek.

Namun, hal yang paling menganggu bagi gue di film Dilan 1990 adalah adegan berkendara yang saya rasa cinematograpi-nya kurang alus, dan alur percakapannya itu sangat lambat dan kurang berfaedah. Tapi, jika gue disuruh menilai film ini, gue akan memberi nilan 9/10. Yup 9/10, because none perfect.

Gimana pendapat kalian dengan film Dilan 1990? Apakah diajak bernostalgia juga seperti saya? hehe

with love,

MF

Share

2 Comments

  • Reply

    Victor

    March 10, 2018

    Ngaluss mulu, masi kurang greget gombalnya dilan tapi yak

    • Reply

      Mia Fajarani

      March 15, 2018

      iya, ngalus doang. gak dapet masa ya ka vic hahaha

Leave a Reply to Mia Fajarani Cancel reply