Writing

Kill em with kindness

Berada di lingkungan baru tentu saja harus menyesuaikan dengan keadaan sekitar. Lingkungan baru berarti suatu hal ada yang berubah. Ya, hidup beriringan sambil berubah menjadi suatu hal yang baik. Tapi pernah disampaikan bahwa diri ini sulit dalam menerima perubahan itu sendiri, pada dengan berubah maka hidup adalah hidup.

Bukannya tidak bersyukur, hanya saja keadaan sekitar belum mampu beradaptasi dengan baik atas kegiatan yang baru. Kesibukan dan keterbatasan waktu tentu saja menjadi sebab musabab sulit dalam beradaptasi tanpa penjelasan pasti.

Kerja. Ya, saat ini gue kerja didalam sebuah ruangan. Sebelumnya? Kerja dirumah ataupun lapangan.

Berada di lingkungan keluarga yang orang-orangnya super sibuk, memaksa gue memberikan mereka penjelasan perihal pekerjaan yang diemban. Pergi semaunya, pulang sekelarnya. Pekerjaan yang baru ini memang menguras tenaga karena jarak tempuh yang dekat tapi macet naudzubillah di Fatmawati.

Pergi kerja setelah orang-orang dirumah berangkat, dan pulang kerumah ketika mereka butuh makan. Kadang, gue balik buru-buru karena punya firasat mereka bakal nungguin untuk pergi makan. Setelah menepuh perjalanan panjang, sampai dirumah mereka sudaha duduk manis didalam mobil menunggu kepulangan gue yang selanjutnya pergi makan ke suatu tempat. Istilahnya, turun motor naik mobil. Baru banget matiin motor, 5 menit kemudian sudah di mobil.Melelahkan? Ya tentu, tapi semua demi kemaslahatan bersama dan kemakmuran keluarga. Kalau gue balik semakin malam, ya mereka makin lama juga nungguin gue.

Selama bekerja apa yang didapet? Pengalaman bagaimana memanajemen waktu dan kebiasaan-kebiasaan. Pernah gue saking banyaknya kerjaan dikantor dan deadline tulisan, tangan sampe kiting. *Ah lebah ini mah*

Manajemen waktu itu sangat diperlukan, dan gue sampai saat ini masih belum terlalu terbiasa dalam mengaturnya. Kapan gue sarapan, makan siang, makan malam, nulis, kerja, nyanyi, semua itu belom gue biasakan dalam kehidupan sekarang setelah bekerja.

Bekerja disatu instansi tentu akan bertemu dengan banyak orang, peengalaman selama kuliah dan sekolah dalam beertemu dengan seseorang tidak membuat gue canggung, tapi malah malu-maluin. HAHAHAHA.

Saat bertemu dengan klien maupun orang berkepentingan, gue selalu menjaga tutur kata dan intonasi, tidak lupa juga senyum yang manis sebagai citra diri gue yang ramah dan periang serta….ah isi aja sendiri. Mungkin karena terbiasa interaksi dengan orang dengan berbagai latar belakang dan hasil tatar tata krama dirumah, gue lebih ngerasa mereka itu sebagai teman bekerja. Tutur kata dan kesopanan tentu saja diperhatikan. Bisa karena terbiasa.

Bertemu kalangan atas maupun bawah bagi gue udah enggak canggung lagi, sampai teman kantor bilang, “gilee mia banyak bangeett(yang dideketin)”

Padahal, semua itu adalah layaknya seorang pesuruh kepada orag yang disuruh. Menghormati sambil memahami. Kayak menyelam sambil minum air gitu deh. Ada bonusnya ahahah

Entah. .Wankawan dikantor memandang gue tebar pesona, padahal biasa aja. Ketemu klien kaga dandanm kecuali pas kondangan doang. Mana pernah gue kondangan ke tempat klien, yakan hahaha.

Intinya, jaga tutur kata, tata krama dan norma kesopanan pada orang yang lebih tua, orang yang dihormati dan berikan kasih sayang secukupnya kepada mereka yang erkasih.

 

Share

Leave a Reply