Cerita Kita, Cinta, Kehidupan, Lifestyle, Mimpi, Movie, Perpisahan, Persahabatan, Review, Waktu, Writing

Menembus Batas dan Me Before You

Seseorang merasa memiliki batas, namun keterbatasan itu bisa dilewati jika terdapat sedikit paksaan dan kemauan.

Keterbatasan apa yang dimaksud? Keterbatasan yang masih kasat mata. Ketika ada kesempatan untuk melakukan suatu hal, tapi menolak karena tidak bisa. Padahal di dunia ini tidak ada yang tidak mungkin. Contohnya sebuah rasa yang enggan diungkapkan dalam sebuah persahabatan, pada akhirnya ada juga kan sahabat menjadi cinta?

Ketika dirimu tidak memiliki uang untuk membeli makan, akan selalu ada jalan dan beribu cara agar kau bisa makan. Maka, tembuslah batasan itu dengan cara yang bisa kau lakukan tanpa menorehkan luka pada orang lain.

Dalam usaha untuk menembus batas, tentu harus ada orang lain yang memberikan semangat dengan sedikit paksaan yang disertai kemauan pada diri itu sendiri. Menembus batas bukanlaha sebuah kewajiban, namun sebuah keharusan agar hidup lebih berwarna dan banyak variasi.

Salah satu contohnya dalam menembus batas yang gue maksud kali ini adalah kisah seorang wanita yang besar di sebuah kota kecil di pinggiran Inggris.

Eh, kisah siapa???

Yap,  kisah cinta dua manusia dan sekelumit pahitnya kehidupan mereka dalam Me Before You

Film Me Before You menceritakan tentang seseorang yang awalnya memiliki kehidupan yang sangat sempurna namun pada suatu hari ia terlibat kecelakaan lalu lintas yang mengakibatkan dirinya lumpuh total, lallu bertemu dengan pengasuhnya, Luoisa Clark. Dia adalah Will Traynor, anak tunggal dari pasangan Traynor yang tinggal di daerah terpencil yang memiliki kastil. Will tipikal pekerja yang gigih, eprfeksionis dan tentunya juga romantis kepada sang kekasih, namun akibat kecelakaan lalu linta yang menimpanya membuat Will harus merelakan kehidupannya yang sempurna, yang bisa pergi traveling dan olahraga esktrim ke berbagai tempat. Kelumpuhannya membuat dia mengalami depresi berat dan hampir saja ia tewas bunuh diri. Ibunya memutuskan untuk mencari seorang perawat yang mampu dan mau mengurus Will dengan sifatnya yang egois, angkuh, dan dingin. Louisa Clark, seorang gadis desa yang baru saja dipecat sebagai seorang pramusaji pada sebuah toko roti, memutuskan untuk mengambil pekerjaan sebagai perawat Will.

Pertemuan mereka diawali dengan rasa canggung, karena Loui belum pernah merawat orang lumpuh, serta sifat angkuh Will. Louisa, seorang gadis desa yang menurut Will sangat old fashion karena tidak melakukan hal-hal yang harusnya ia lakukan di usianya. Loui didorong untuk melakukan sesuatu dibatas keinginannya, yang sebenarnya bisa ia lakukan. Diving, pergi keluar negeri, menggunakan celana kesukaannya, serta melanjutkan pendidikan dan berbagai hal lainnya

Singkat cerita, Louisa Clark, yang dibintangi oleh Emilia Clark, mengetahui jika Will memutuskan untuk melakukan suntik mati yang tak dapat lagi dicegah oleh siapapun, termasuk orangtuanya sendiri. Padahal, rasa nyaman, cinta dan sayang sudah mulai berkembang diantara mereka, namun sayangnya Will Traynor, yang diperankan oleh Sam Claflin, tetap memilih untuk melakukan suntik mati, atau dignitas, karena menurutnya, ia menginginkan hidup yang lebih baik tapi tidak dengan kondisi lumpuh seperti itu.

Menembus Batas dan Me Before You

Film dan novel ini mengajarkan kita untuk melakukan hal-hal yang sebenarnya dapat kita lakukan, karena tak ada yang tak mungkin di dunia ini serta tak akan bisa belum mencoba. Banyak yang bilang “ah, gue nggak bisa” padahal nyatanya mereka belum mencoba hal tersebut sama sekali. Apa sih yang bikin kita belum mencoba hal tersebut? Satu hal yang pasti, takut. Betul, semua orang punya ketakutan, berbagai macam ketakutan, baik yang kamu anggap sepele tapi bagi mereka adalah sebuah ketakutan yang besar, hingga ketakutan bertemu dengan orang lain karena trauma yang pernah dialaminya.

Tapi, menurut gue, takut itu bisa dihadapi. Caranya? Menghadapi ketakutan itu dengan orang yang kita percaya bahwa dia dapat meredam ketakutan kita itu. Contohnya gue, gue takut tuh naik banana boat kalau lagi plesiran ke Anyer. Sampai suatu ketika, Papih nyuruh gue naik wahana itu, dengan alasan, “kamu harus naik itu mumpung ada disini, kamu harus berani.”. Gue panik, gue enggak mau, takut tenggelam, takut enggak bisa berenang. Padahal, kita enggak bakal tenggelam karena ada pelampung, namun tetap saja rasa takut itu mengalahkan semua fakta yang ada.

Dan pada akhirnya gue mengajukan syarat, naik banana boat harus sama Abang. Mereka mengiyakan, dan gue pegangan sama abang dari naik kapal hingga ke wahananya. Takut? Pasti. Tapi, karena gue percaya abang bakal bantuin dan menyelamatkan gue kalau ada apa-apa di tengah laut, makanya gue putuskan untuk naik wahana tersebut.

Memupuk kepercayaan pada seseorang itu dibutuhkan screening yang panjang agar diri kita juga nyaman sama dia. Meskipun ada beberapa orang yang tidak menjaga kepercayaan itu dan malah menusuk dari belakang. Syakit tsaaaayyy.

Begitu pula pas gue diajak untuk snorkling dari kantor, dan tentu nggak ada Abang. Bagaimana gue bisa join? Gue mempercayakan diri gue pada satu orang kawan, yang bikin gue galau mulai dari pra sampai pasca resign beberapa waktu lalu, bahwa dia bisa menyelamatkan dan menjaga gue kalau ada apa-apa di tengah laut.

Meskipun melunturkan ketakutan tidak semudah apa yang gue lakuin dengan menaruh kepercayaan pada seseorang, tapi gue berhasil menaklukannya. Kalau kamu, gimana sih cara mengatasi ketakutan yang harus banget kamu lakuin?

Me Before You mengajarkan gue bagaimana harus tulus merawat seseorang, mencintai tanpa pandang fisik, serta menjaga hati dan perasaan orang lain agar tidak ada yang sakit hati. Eh, kalian nanya gimana kelanjutan cerita Will and Loui? Ya nonton sendiri atuh, atau kalau kamu suka baca novel, baca aja novelnya, udah banyak kok yang versi teerjemahannya. Me Before You juga ada sekuel novelnya loh, judulnya After You yang sempet dijual dua pcs gitu seharga lima ratus ribu dalam versi asli, alias english hehehe.

Share dong gimana pendapat kamu dari film Me Before You ini, gaes!

With Love,

MF

Share

2 Comments

  • Reply

    kresnoadi DH

    January 19, 2018

    Uh, emang banyak banget yang bilang kalo film ini bagus. Tapi gue sampe sekarang belum sempet nonton. padahal abis nonton pasti jadi semangat gitu sih yaa. \(w)/

    • Reply

      Mia Fajarani

      February 22, 2018

      haha, kudu nonton film ini sih lucu, sedih dan garingnya dapettt

Leave a Reply to kresnoadi DH Cancel reply