Kehidupan, Travelling, Waktu, Wisata, WorkTrip, Writing

Ketinggalan Pesawat di Amsterdam

Pada tulisan yang sebelumnya, saya bercerita bagaimana mendapatkan kesempatan dan diberikan jalan mulus oleh Tuhan untuk menjejakkan kaki di tanah Eropa. Nah, untuk kali ini, saya mau menceritakan sebuah kisah pilu di tanah para meneer untuk pertama kalinya.

Sempat menuliskan pada sebuah status di facebook tentang hal ini, kata mamad, tulis aja keleus di blog. Yoweesss daku tulis yes.

Jadi, rute pesawat saat itu adalah Jakarta – Amsterdam – Brussels dengan total perjalanan selama 19 jam menggunakan KLM. Dengan jeda transit KL-AMS adalah 1 jam dan AMS-BXL adalah 3 jam.

Saya berangkat tidak sendiri, tapi bersama tim yang terdiri dari 7 orang, saya yang paling muda. Saat proses check in bagasi, ternyata masing-masing orang hanya dapat memasukkan satu buah barang dengan maksimal 20kg, kirain karena rombongan maka bagasi bisa digabung, eh taunya enggak bisa. Ya mohon maap, kita nggak tau wkwk

Cuaca saat itu memang banyak petir dan angin kencang, maka penerbangan sedikit terganggu, kira-kira 10 menit gitu deh, dan selama perjalanan Jakarta – Kuala Lumpur terjadi sedikit turbulensi.

Bukan hanya di Indonesia, tapi cuaca buruk juga terjadi saat perjalanan menuju Amsterdam, tepatnya bandara Schipol. Turbulensi terparah yang pernah saya alami, udah kayak naik roller coster di the jungle wkwkwkw.

Mungkin saat baca ini kalian “yaelah turbulensi doang” But, the feels gaes. Serem. Sampe bule di samping akoh juga geleng-geleng kepala sambil bilang “Wow”. Makan rasanya hampa, mual hahaha

Setelah menikmati cemilan, makan besar, nonton film, dengerin lagu dan bolak balik toilet, tibalah kami di bandara Schipol, Amsterdam, Belanda.

schipol airport

Ketika pesawat sudah mendarat, keluar dari pesawat itu lamaaa banget, ada kali sejam kita belum keluar dan ga tau apa penyebabnya.

Setelah keluar kita langsung cari gate, dan beruntungnya dikasih tau sama bule disamping aku yang anaknya sekolah di Leiden University, kita bakal keluar di gate sekian untuk naik pesawatnya.

Sayangnya, pemeriksaan kala itu puanjaaaaanggggg bangeeet, dan memakan waktu yang sangat amat lama. All devices yang ada di tas harus dikeluarin, sampe laptop juga dikeluarin. PR banget kan ya wkwk tapi ya itu kebijakan mereka, kita harus mengikutinya.

Setelah proses pemeriksaan yang panjang, salah satu anggota kami terpisah dan tak ada kabar, coba menghubungi via wa pun tak ada kabar, setelah menunggu akhirnya kita memutuskan untuk langsung menuju gate yang telah ditentukan.

Schipol itu luas banget, dan gate kita berada di angka buncit, yaitu 62. Sebelum sampai gate, ada pemeriksaan imigrasi yang juga panjang banget, Waktu kita semakin mepet, dan akhirnya ketemu juga dengan anggota yang hilang.

Setelah kita bilang ke petugas kalau pesawat kita udah mepet banget, baru deh dipersilahkan terlebih dahulu.

Proses imigrasi selesai, anggota lengkap, langsung kabuuurrr ngejar pesawat. Kita menelusuri gate dari 1 sampe ke 62. Gimana tuh rasanya, udah lelah, lari-larian dengan menelusuri ramainya pengunjung.

Dari kejauhan udah keliatan tuh gate-nya, tapi ada petugas yang melambaikan tangan sambil bertanya nomor penerbangan. Eh taunya pesawat udah tutup pintu dan persiapan terbang. alhasil, angus udeh lah.

Pait nggak tuh? Mana pertama kali di negara orang ketinggalan pesawat, kan baisanya di dalam negeri kita yang nungguin pesawat datang. huhu

Kita urus ke bagian KLM untuk klaim keterlambatan, dijelasin lah karena ada sempat delay sebentar, trus turun dari pesawat tuh nggak langsung turun, tapi sempet nunggu dan yaaaaa pemeriksaan panjang yang mendebarkan.

Alhamdulillah petugasnya ramah dan ada sedikit biaya yang dikeluarkan untuk pengganti pesawat selanjutnya. Yup, kita harus menunggu 4 jam sebelum keberangkatan pesawat ke Belgia. Waktu itu tiba di Amsterdam sekitar jam 8 pagi, dan cuaca amat sangat sendu diliputi dengan awan abu-abu dan angin yang menusuk.

KLM

Dan pada akhirnya kita sampai di Brussels, Belgia. Langsung akoh kirim foto ini ke Mamih Papih.

brussels

Setelah curhat sama temen yang akhirnya telah menikah dengan orang Prancis, dia menyarankan untuk tidak mengambil penerbangan yang berjarak 3 jam dari kedatangan. huhuhu kan tiket bukan aku yang pesen yhaa, jadi mana tau.

Katanya “Meskipun cuma punya waktu 3 jam, tetap aja kurang. Soalnya kita kan warga negara asing, jadi pemeriksaannya juga beda dan emang panjang. jadi besok-besok pilih yang direct flight atau 4 jam sebelum keberangkatan menuju negara tujuan”

Dan begitulah cerita pait akoh ketinggalan pesawat di Amsterdam. Kami tidak saling menyalahkan, tapi mengambilnya sebagai pelajaran.

Sekian dan atur waktumu sebaik mungkin yes kalau mau melakukan perjalanan jauh, apalagi ke negara orang yang emang sangat asing.

Keep writing dan support each other.

With Love,

MF

Share

2 Comments

  • Reply

    Bang Day

    9 September, 2018

    Syukurlah bisa complen. Pernah ngerasain jg gmn pemeriksaan di schipol. Seorang teman cwe sempat lama diperiksa karna alasan spesifik.

    • Reply

      Mia Fajarani

      20 September, 2018

      iya, alhamdulillah bisa komplen. dan baik juga petugasnya.
      woh, diperiksanya gimana tuh? kalau saya, ada teman yang ditanya untuk kepentingan apa sampe mesti menujukkan surat jalan haha

Leave a Reply