Abstrak, Cerita Kita, Kehidupan, Mimpi, Pilihan, Travelling, Waktu, WorkTrip, Writing

Eropa : Sebuah Perjalanan Hidup

No one knows which way that God will let you to cross.

Tak ada yang tau kemana arah tujuan hidup yang akan Tuhan berikan kepada hambaNya, begitupun dengan jalan hidup saya pada bulan September yang lalu.

Bekerja di sebuah perusahaan swasta dengan gaji yang cukup untuk menghidupi diri sendiri dan adik perempuan, ternyata membawa saya pada sebuah perjalanan yang tak dapat dibayangkan oleh orang lain.

Bertugas mengajak seseorang untuk tertarik bukanlah sebuah usaha yang mudah, adalah sebuah usaha yang membutuhkan pemikiran sehat, matang, visioner, dan tentunya kreatif. Padahal awalnya saya beranggapan “Gue nggak bisa bekerja di indxustri kreatif seperti yang marak saat ini”. Namun, anggapan itu dipatahkan oleh Tuhan, bahwa saya mampu, saya bisa dan pada akhirnya, Tuhan memberi saya jalan menuju Eropa.

Jujur, semenjak mengemban pekerjaan yang berbau dengan Eropa, saya dengan lantang mengatakan tidak mau jika dikirim ke Eropa sana, karena cuaca yang ekstrem saat itu, dimana summer memasuki spring dan spring hampir sedingin winter. Tapi, lagi-lagi, Tuhan melarang saya untuk mengatakan tidak pada kemampuan diri bertahan hidup dicuaca dingin.


Pada suatu pagi ketika saya baru saja sampai kantor, sekitar jam 10, itu kantor apa kos-kosan?, Bos dengan lantangnya berujar “Mia lo pergi ke Belgia. Paspor lo masih aktif kan?”. And i am be like…. WHAT THE Frequent Answer Question”

Setelah melakukan konfirmasi ke bos yang satu lagi, ternyata memang benar adanya saya disuruh ke Eropa sana selama beberapa hari untuk urusan pekerjaan. Apa mau dikata, paspor harus dikumpulkan hari itu juga untuk memproses pembelian tiket dan urusan visa. Bayangkan, baru sampai kantor dan nggak bawa paspor. Benar sekali, saya langsung meminta mamah untuk mempersiapkan paspor sementara saya mengisi aplikasi visa.

“Mamah, cariin paspor neng dong. siapin ya nanti neng pulang”, lantas mamah bertanya-tanya untuk apa paspor sebegitu dibutuhkannya dengan sesegera mungkin. No one believe me, termasuk mamah. Mah, aku juga tak percaya disuruh pergi kesana huhu.

Setelah pengurusan visa dan tiket, selanjutnya adalah baju dan jaket musim dingin yang nggak bakal sempat untuk membelinya karena waktu sudah mepet dan kerjaan yang menumpuk. Jalan keluarnya adalah meminjam kepada tetangga dan saudara. Alhamdulillah-nya Papah punya jaket yang buat main ski di salju gitu, alhamdulillah banget nggak kudu beli huhu. Dan semua barang yang saya bawa dalam koper itu tidak ada satupun yang beli, kecuali kaos kaki tebal. Maklum, kaos kaki punya yang semata kaki dan tipis pis pis.

Setelah peralatan musim dingin selesai, gue juga tanya kepada para hadirin sekalian perihal “which one is better? ATM A, C atau B yang lebih enak dibawa ke Eropa sana?” Alhamdulillah mereka sangat membantu dalam mempersiapkan perjalanan saya, sampai waktunya mereka bertanya “Kamu mau kemana?” dengan malu-malu, saya jawab “Eropa, percaya gak?” Yup, kebanyakan mereka gak percaya, tapi ya saya juga gak memaksa mereka untuk percaya.

Nyatanya pekerjaan saya bukan hanya di Belgia, tapi beberapa negara Eropa lainnya yang berjarak ratusan kilometer namun memerlukan waktu tempuh beberapa jam. Disela-sela waktu senggang menyempatkan berkunjung dan berfoto di depan menara Eiffel, belanja di pinggiran Belanda dan foto bersama di Volendam.


Apa yang diharapkan, belum tentu terwujud. Dan kadang, hal yang tak pernah diharapkan terwujud dengan sendirinya atas kehendak Tuhan Yang Maha Esa.

Harapan saya hanya satu, bisa mengunjungi Oppa-oppa di Korea sana sambil bersilahturahmi dengan teman-teman Korea. Tapi, saya dipermudah jalannya menuju Eropa

Kamu bilang, it’s like a dream come true, but for me, it’s an unexpected way from God.

Sebuah perjalanan yang tak terduga diberikan langsung kepada saya, sang pekerja swasta dengan gaji seadanya, berasal dari keluarga biasa yang penuh kehangatan.

Jalan hidup sudah ditentukan oleh Tuhan Yang Maha Esa, maka ubahlah nasibmu, bukan takdirmu. Tetap syukuri apa yang sudah didapatkan dan apa yang diberikan. Bersyukur bertemu dengan orang-orang hebat, bersyukur bertemu dengan teman-teman nyentrik eksentrik nan kritis.

Your destiny is your God’s will. Live it, feel it and enjoy the journey.

With Love,

MF

Share

9 Comments

  • Reply

    Rani Yulianty

    14 August, 2018

    Ceritanya menginspirasi mba Mia, senangnya bisa menginjakkan kaki ke Eropa, salah satu impian anakku, hehehe usianya 5 tahun tapi sudah pengen jalan-jalan ke ERopa karena sepupunya tinggal di Inggris

  • Reply

    Farhati

    14 August, 2018

    Keren mbaa bisa ke Eropa, kayaknya tujuan impian setiap orang

  • Reply

    Nova Violita

    14 August, 2018

    Bener banget..kalo positif thinking dengan kehidupan ini Tuhan akan berikan melebihi yg kita inginkan…

    Wah senangnya bisa bekerja di Eropa…sukses selalu mba..

  • Reply

    ulya

    15 August, 2018

    Diiiih serunya bisa jalan-jalan sambil kerja. Uwuwuw

    Thanks sharingnya ka 🙂

  • Reply

    Nova Violita

    15 August, 2018

    Bener banget…yang penting pikiran selalu positif dengan Tuhan…

    Apa yang kita inginkan selalu diberi lebih dari sekedar yang kita impikan…

    Sukses set ya..

  • Reply

    unggulcenter

    15 August, 2018

    yess sebuah perjalanan yang ngga akan terlupakaan! hehe.. aku juga pake paspor schengen JJS nyempatin diri aja waktu kuliah jd lumayaan keliling.. lebih mudah terkeliling krn eropa kecil daripada Indonesia hihi

  • Reply

    zefy

    15 August, 2018

    Pengen juga ke sana mbak, mupeng banget eh lihatnya. Semoga one day bisa ke sana bareng suami dan anak, aamiin

  • Reply

    Jiah

    15 August, 2018

    Gak ada yg gak mungkin ya Mbak
    Ntar semoga bs ketemu Oppa2 ganteng Korea yah. Kalau perlu ke Amerika sana, hehwhw

  • Reply

    Dian Farida Ismyama

    15 August, 2018

    Wah seru banget Mbak. Aku malah dari dulu pingin ke Eropa, sampai nabung segala. Apa impianku kuganti dapat hal tak terduga biar ke Eropa free ya? Hehe

Leave a Reply