Skip to content

Mia & Her Story

Be Happy and Fight For Your Life

Menu
  • Volunteer
  • Travelling
  • Review
  • K-Zone
  • Kumpulan Sajak
  • Contact Me
Menu

Aku (harus) Berani

Posted on 23 March, 201729 October, 2021 by Mia Fajarani

Menangis bukan jalan keluar, berpura-pura tegar pun bukan jalan terbaik. -Mia

Terlahir menjadi anak bungsu pada sebuah keluarga membuat diri ini manja dan harus bergantung pada orang lain. Kepada siapa lagi aku bergantung selain kepada Allah? Jawabannya adalah Abang. Seorang anak laki-laki yang dilahirkan 6 tahun lebih awal dari kehadiranku.

Dari kecil, aku dan abang biasa hanya berdua, hingga pada satu saat ketika orangtua harus pergi dinas, hanya ada kami berdua dirumah yang lalu dititipkan kepada saudara. Aku terbiasa dengan adanya Abang yang menjadi tiang sebagai pegangan kala bingung, yang menjadi selimut ketika ketakutan, dan yang senasib ditinggal orangtua pergi dinas.

11 tahun lamanya menjadi anak bungsu harus diakhiri dan bergeser menjadi anak tengah. Iya, gue punya adik. Terdapat satu ketakutan disana, yaitu perhatian Abang bakal beralih ke Dede. Tapi ternyata, Abang memutuskan untuk menikah ketika Dede masih kecil.

Ketika seseorang memutuskan untuk menikah, maka fokusnya berubah, haluannya berbeda. Menikah berarti memiliki tanggungan lain.

Iya, Gue harus menjaga Dede dan Abang menjaga keluarganya.

Tidak punya dasar memimpin, mengharuskan gue menjadi pemimpin. Awalnya gerah, marah, sebal, tapi semua demi kebaikan bersama. Gue belajar jadi pemimpin dirumah ketika Papih dan Mamih pergi dinas. Menjadi seorang pemimpin itu harus berani meskipun pada dasarnya gue penakut.

Tapi lagi dan lagi, gue harus mengenyampingkan rasa takut dan manja itu ketika hanya berdua dengan Dede. Logikanya, kalau Dede takut, trus gue juga takut, atuh bakal gimana kelanjutan ceritanya?

Yap, mengenyampingkan rasa takut itu memang sulit, namun terpaksa di singkirkan.

Contohnya, gue orang yang takut dengan hujan, dan Dede juga takut ketika hujan datang. Manusia itu makhluk sosial yang juga saling melengkapi bukan? Seperti aku dan kamu yang saling melengkapi. Enggak mungkin dong ketika dede nangis ketakutan, gue juga ikut nangis???

Aku harus berani, bukan pada dasarnya aku memang berani.

Meskipun berani bukan hanya perihal psikologis dalam mengatasi ketakutan atau bahaya, tapi gue juga berani dalam mengatakan kebenaran hingga membuat pertempuran. HAHAHAH

Marilyn King  mengatakan bahwa keberanian dipengaruhi oleh 3 hal :
1. Visi, yakni tujuan yang ingin kita capai.
2. Tindakan nyata, berupa usaha yang kita lakukan dalam mengupayakan tercapainya tujuan.
3. Semangat, kondisi untuk tetap bertahan dalam rangka usaha untuk memperoleh tujuan.

Sebenarnya setiap manusia diharuskan untuk berani, bukan? Iya, berani melawan jin dan setan. Kalau takut kepada jenis mereka, yang ada mereka bakal mengganggu. Tapi jika kita berani, mereka bakal takut kepada kita.

Hal-hal mistik juga bukan suatu yang baru di hidup gue. Dede adalah tipe orang yang sangat sering di “tempel” oleh makhluk halus. Lantas gue takut? Ya enggaklah. paling cuma deg-degan aja ketika dapat laporan Dede ada yang ikutin.

Aku harus berani karena tuntutan hidup, kalau aku tidak berani, masa iya selalu bergantung pada orang lain?

Iya, jangan melulu bergantung pada orang lain. Karena bakal repot dan susah move on, kayak perasaan aku ke kamu.

Pada satu waktu, Papih musti masuk hotel, dan gue merasa sangat pilu melihat kesakitannya. Jika saat itu gue nangis, yang ada Mamih tambah sedih. Tapi gue berusaha untuk tegar meskipun uring-uringan pengen nangis. Dalam kondisi seperti itulah gue diharuskan jadi pemimpin yang memiliki keberanian tingkat tinggi. Bolak-balik rumah-rumah sakit, belum ngatur jam kunjungan dede, beli makan, dan lain halnya.

Berani bukan berarti harus mengatakan “aku berani”, tapi juga manifestasi pada sebuah tindakan.

Jika kamu hidup, maka kamu harus berani.

Kamu hidup berarti kamu memiliki keputusan yang harus kamu terima segala resikonya. Dalam menjalankan keputusan yang sudah diambil, diperlukan keberanian dalam menerima resiko yang munkin terjadi. Membuat berbagai probabilitas resiko atas keputusan yang telah ditentukan. Jika kamu tidak berani, maka akan sulit dalam membuat keputusan, dan kamu bakal diam membusuk ditempat.

Misalnya gue ngajak dede makan di satu resto, dari awal gue sudah memikirkan berbagai macam kemungkinan terburuk, yaitu dede masuk angin karena naik motor,  batuk, pegel-pegel dan kehujanan. Dari kemungkinan-kemungkinan itu, gue harus siap menerima resiko dan mengatasinya. Kalau gue gak siap dan berani menerima konsekuensinya, yang adalah gue lempar batu sembunyi kaki dongs. DAN ITU TIDAK BOLEH. Siapa berbuat, dia tanggung jawab.

Intinya, saat ini gue masih berusaha untuk menjadi pribadi yang lebih berani lagi dalam hal memimpin, menjadi yang diandalkan dalam keluarga pun harus berani.

Manjalah pada tempatnya, dan beranilah dimanapun kamu berada.

Aku (harus) berani

with love,

MF

25 thoughts on “Aku (harus) Berani”

  1. Oky says:
    31 March, 2017 at 15:16

    Semangat ya, Mia! xD

    Reply
    1. Mia Fajarani says:
      4 April, 2017 at 07:55

      syemangat kaaa hehe

      Reply
  2. William Giovanni says:
    31 March, 2017 at 20:41

    Kamu harus berani, jangan lupa kalau ada kuis ‘Siapa Berani?” edisi baru ikutan ya. Berhadiah uang jutaan rupiah.

    Reply
    1. Mia Fajarani says:
      4 April, 2017 at 07:56

      ah, kalau ada kuis itu, aku ikut bareng koh gio ja, biar kebagian rejekinya haha

      Reply
  3. Amanda Desty Yunistyani says:
    31 March, 2017 at 21:23

    Bener Mia, manjalah pada tempatnya. Aku sebagai anak tunggal juga seperti itu, walau kata orang pasti manjanya berlebihan tapi aku gak merasa seperti itu.

    uuuu kamu semangat yaaaa!

    Reply
    1. Mia Fajarani says:
      4 April, 2017 at 07:57

      iyaaa, manjalah pada tempatnya. jangan manja sama pacar yang belom tentu jadi pasangan di pelaminan akakaka

      Reply
  4. wanda syafii says:
    31 March, 2017 at 21:34

    teruslah jadi kaka yang baik buat adenya. takut dan lainnya itu wajar kok mi. tapi… pas ujan pada gimana kalian keatkutannya? hahahha…
    walah, adenya bisa liat/ngerasain yang begituan mi? ngeri juga ya kalo bisa ngerasain itu

    Reply
    1. Mia Fajarani says:
      4 April, 2017 at 07:59

      takut ka, jujur, aku takut. wwkw tapi ya mau gimana. kalau aku keliatan takut, nanti dede nyalinya malah menciut wakakaka

      Reply
  5. Ednadus says:
    1 April, 2017 at 00:16

    Gue terlahir sebagai anak tunggal
    Lebih berat gue rasa untuk tanggungan segals hal, ….

    Reply
    1. Mia Fajarani says:
      4 April, 2017 at 08:03

      anak tunggal pertanggung jawabannya hanya minus tanpa sudara kandung, selebihnya sama saja dengan anak bungsu, atau tengah.
      masalah tanggungan, semua orang punya porsinya masing2. saya mengatakan berat, mungkin dimata kamu tidak berat. jadi terganntung pribadi sendiri bagaimana situasi dan kondisi yang ada

      Reply
  6. Rhoshandhayani KT (Kak Roos) says:
    1 April, 2017 at 06:58

    wuah keren nih. Mia harus tetap semangat dan selalu berani. Harus berani dan siap memimpin si Dede, karena kemungkinan besar kita akan menjadi pemimpin di masyarakat, entah kapanlah itu

    Manjalah pada tempatnya, dan beranilah dimanapun kamu berada.
    justru saya lebih suka quote yang ini >.<

    Reply
  7. Feby Yolanda says:
    1 April, 2017 at 11:16

    Semangat untuk jadi lbh merani Mbak Mia ??

    Keponakanku juga ada yg ditempeli, kadang takut ketika dia mulai ngerasa atau liat yg aneh aneh.
    Tapi aku lbh takut sama manusia kalau kagi sendiri di rumah, apalago sering nonton berita kriminal

    Reply
  8. Atanasia Rian says:
    1 April, 2017 at 12:14

    Kadang emang sulit tapi kalau sudsh kepepet biasanya bisa. Saya pernah ngrasain tp bukan karena kelahiran adek dan sukses menjalani nya

    Reply
  9. Tukang Jalan Jajan says:
    1 April, 2017 at 19:17

    aku yakin kak Mia pasti bisa dan melakukan hal hebat. Pasti bisa. SEMANGAT

    Reply
  10. tomi says:
    1 April, 2017 at 21:14

    Semangat mba!! Aku juga terbiasa berani karena keadaan. Menjadi anak laki² satu² di sebuah keluarga dan sbg pengganti bapak hehe

    Reply
  11. cutdekayi says:
    1 April, 2017 at 21:19

    Bagus tulisannya, Kak Mia. Aku sebagai anak sulung dan sudah menikah, tetep merhatikan adik-adik. Karena bagaimanapun, sebagai anak perempuan satu2nya, aku srg dijadiin tempat curhat drpd bundaku. Well yeah, smg apapun status kita, kita bs memberikan yg terbaik utk diri, dan org sekitar. Smangaatttt

    Reply
  12. Pertiwi Yuliana says:
    1 April, 2017 at 21:28

    Manusia memang mestinya selalu dalam keadaan siap. Dan jadi pemberani adalah salah satu kuncinya untuk menang dari keadaan yang sedang berjalan.

    Reply
    1. Mia Fajarani says:
      4 April, 2017 at 08:04

      menang dari keadaan berjalan. Layaknya maju jalan atau berhenti dan terlindas ditengah jalan

      Reply
  13. Jiah says:
    1 April, 2017 at 22:27

    Aku sama adekku beda 4 tahun, dia sering kugencet. Duh enggak layak jd pemimpin ini mah

    Beda 11, adiknya kecil mgkn beda bgt ya, Mbak. Jagainnya musti byk. Kaya aku sma ponakanku itu

    Reply
    1. Mia Fajarani says:
      4 April, 2017 at 08:01

      ahaha beda 4 tahun udah kayakk temen sendiri itu mah ya. Iya, aku beda 11 tahun wkwk jauh ya. nanti ka Jiah kalau nikah jangan punya anak dengan jarak usia yang terlalu jauh yak hihi

      Reply
  14. Pu says:
    1 April, 2017 at 22:29

    Saya sama adik tdk terlalu dekat. Tp pd satu waktu, kdg saya hrs jd pemimpin dia

    Reply
    1. Mia Fajarani says:
      4 April, 2017 at 08:00

      iya, suatu saat nanti pasti harus memimpin dia, Kak. Aku sm dede sih deket, soalnya dirumah cuma ada dua anak yang tersisa haha. mungkin kalau abang belum menikah sih aku pasti jauh dr dede

      Reply
  15. Dikki Cantona Putra says:
    2 April, 2017 at 10:06

    Berani itu diperlukan apalagi menjadi kaka. Akan tetapi, tidaknya punya adee sih pasti kadang tidak bisa akur dengan baik haha

    Reply
    1. Mia Fajarani says:
      4 April, 2017 at 07:57

      iya, kadang punya adek pasti gak akur kwkwkw hanya gimana cara bergaulnya saja sesama saudara kandung yakan

      Reply
  16. Noni Rosliyani says:
    4 April, 2017 at 09:10

    Miaaa.. maaf kelewat. :*
    Sebelas tahun jadi anak bungsu, lama juga yaaa.. Tapi pasti bisalahh kamu.
    Itu nanti bakal jadi bekal untuk membangun keluarga sendiri.
    Doa yang terbaik untuk kakaknya. Dan berusaha menjadi kakak yg terbaik untuk adiknya. 🙂

    Reply

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Content Calendar

January 2026
M T W T F S S
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  
« Dec    

Something New

  • Tanpa aba-aba
  • Kenali 3 Gejala Mata Kering Sekarang Juga!
  • Perpisahan Itu Menyakitkan, Tapi..
  • Tentang Asa dan Keinginan, Mana yang Perlu Diwujudkan?
  • Naik Bus buat Travelling? Why not!
  • Persiapkan 4 Hal Ini Sebelum Liburan Ke Korea Selatan

Part of

Blogger Perempuan
Mia Fajarani is an Intellifluence Trusted Blogger Banner Bloggercrony
© 2026 Mia & Her Story | Powered by Superbs Personal Blog theme