Aku (harus) Berani

Menangis bukan jalan keluar, berpura-pura tegar pun bukan jalan terbaik. -Mia

Terlahir menjadi anak bungsu pada sebuah keluarga membuat diri ini manja dan harus bergantung pada orang lain. Kepada siapa lagi aku bergantung selain kepada Allah? Jawabannya adalah Abang. Seorang anak laki-laki yang dilahirkan 6 tahun lebih awal dari kehadiranku.

Dari kecil, aku dan abang biasa hanya berdua, hingga pada satu saat ketika orangtua harus pergi dinas, hanya ada kami berdua dirumah yang lalu dititipkan kepada saudara. Aku terbiasa dengan adanya Abang yang menjadi tiang sebagai pegangan kala bingung, yang menjadi selimut ketika ketakutan, dan yang senasib ditinggal orangtua pergi dinas.

11 tahun lamanya menjadi anak bungsu harus diakhiri dan bergeser menjadi anak tengah. Iya, gue punya adik. Terdapat satu ketakutan disana, yaitu perhatian Abang bakal beralih ke Dede. Tapi ternyata, Abang memutuskan untuk menikah ketika Dede masih kecil.

Ketika seseorang memutuskan untuk menikah, maka fokusnya berubah, haluannya berbeda. Menikah berarti memiliki tanggungan lain.

Iya, Gue harus menjaga Dede dan Abang menjaga keluarganya.

Tidak punya dasar memimpin, mengharuskan gue menjadi pemimpin. Awalnya gerah, marah, sebal, tapi semua demi kebaikan bersama. Gue belajar jadi pemimpin dirumah ketika Papih dan Mamih pergi dinas. Menjadi seorang pemimpin itu harus berani meskipun pada dasarnya gue penakut.

Tapi lagi dan lagi, gue harus mengenyampingkan rasa takut dan manja itu ketika hanya berdua dengan Dede. Logikanya, kalau Dede takut, trus gue juga takut, atuh bakal gimana kelanjutan ceritanya?

Yap, mengenyampingkan rasa takut itu memang sulit, namun terpaksa di singkirkan.

Contohnya, gue orang yang takut dengan hujan, dan Dede juga takut ketika hujan datang. Manusia itu makhluk sosial yang juga saling melengkapi bukan? Seperti aku dan kamu yang saling melengkapi. Enggak mungkin dong ketika dede nangis ketakutan, gue juga ikut nangis???

Aku harus berani, bukan pada dasarnya aku memang berani.

Meskipun berani bukan hanya perihal psikologis dalam mengatasi ketakutan atau bahaya, tapi gue juga berani dalam mengatakan kebenaran hingga membuat pertempuran. HAHAHAH

Marilyn King  mengatakan bahwa keberanian dipengaruhi oleh 3 hal :
1. Visi, yakni tujuan yang ingin kita capai.
2. Tindakan nyata, berupa usaha yang kita lakukan dalam mengupayakan tercapainya tujuan.
3. Semangat, kondisi untuk tetap bertahan dalam rangka usaha untuk memperoleh tujuan.

Sebenarnya setiap manusia diharuskan untuk berani, bukan? Iya, berani melawan jin dan setan. Kalau takut kepada jenis mereka, yang ada mereka bakal mengganggu. Tapi jika kita berani, mereka bakal takut kepada kita.

Hal-hal mistik juga bukan suatu yang baru di hidup gue. Dede adalah tipe orang yang sangat sering di “tempel” oleh makhluk halus. Lantas gue takut? Ya enggaklah. paling cuma deg-degan aja ketika dapat laporan Dede ada yang ikutin.

Aku harus berani karena tuntutan hidup, kalau aku tidak berani, masa iya selalu bergantung pada orang lain?

Iya, jangan melulu bergantung pada orang lain. Karena bakal repot dan susah move on, kayak perasaan aku ke kamu.

Pada satu waktu, Papih musti masuk hotel, dan gue merasa sangat pilu melihat kesakitannya. Jika saat itu gue nangis, yang ada Mamih tambah sedih. Tapi gue berusaha untuk tegar meskipun uring-uringan pengen nangis. Dalam kondisi seperti itulah gue diharuskan jadi pemimpin yang memiliki keberanian tingkat tinggi. Bolak-balik rumah-rumah sakit, belum ngatur jam kunjungan dede, beli makan, dan lain halnya.

Berani bukan berarti harus mengatakan “aku berani”, tapi juga manifestasi pada sebuah tindakan.

Jika kamu hidup, maka kamu harus berani.

Kamu hidup berarti kamu memiliki keputusan yang harus kamu terima segala resikonya. Dalam menjalankan keputusan yang sudah diambil, diperlukan keberanian dalam menerima resiko yang munkin terjadi. Membuat berbagai probabilitas resiko atas keputusan yang telah ditentukan. Jika kamu tidak berani, maka akan sulit dalam membuat keputusan, dan kamu bakal diam membusuk ditempat.

Misalnya gue ngajak dede makan di satu resto, dari awal gue sudah memikirkan berbagai macam kemungkinan terburuk, yaitu dede masuk angin karena naik motor,  batuk, pegel-pegel dan kehujanan. Dari kemungkinan-kemungkinan itu, gue harus siap menerima resiko dan mengatasinya. Kalau gue gak siap dan berani menerima konsekuensinya, yang adalah gue lempar batu sembunyi kaki dongs. DAN ITU TIDAK BOLEH. Siapa berbuat, dia tanggung jawab.

Intinya, saat ini gue masih berusaha untuk menjadi pribadi yang lebih berani lagi dalam hal memimpin, menjadi yang diandalkan dalam keluarga pun harus berani.

Manjalah pada tempatnya, dan beranilah dimanapun kamu berada.

Aku (harus) berani

with love,

MF

25 Replies to “Aku (harus) Berani”

  1. teruslah jadi kaka yang baik buat adenya. takut dan lainnya itu wajar kok mi. tapi… pas ujan pada gimana kalian keatkutannya? hahahha…
    walah, adenya bisa liat/ngerasain yang begituan mi? ngeri juga ya kalo bisa ngerasain itu

    • anak tunggal pertanggung jawabannya hanya minus tanpa sudara kandung, selebihnya sama saja dengan anak bungsu, atau tengah.
      masalah tanggungan, semua orang punya porsinya masing2. saya mengatakan berat, mungkin dimata kamu tidak berat. jadi terganntung pribadi sendiri bagaimana situasi dan kondisi yang ada

  2. wuah keren nih. Mia harus tetap semangat dan selalu berani. Harus berani dan siap memimpin si Dede, karena kemungkinan besar kita akan menjadi pemimpin di masyarakat, entah kapanlah itu

    Manjalah pada tempatnya, dan beranilah dimanapun kamu berada.
    justru saya lebih suka quote yang ini >.<

  3. Semangat untuk jadi lbh merani Mbak Mia ??

    Keponakanku juga ada yg ditempeli, kadang takut ketika dia mulai ngerasa atau liat yg aneh aneh.
    Tapi aku lbh takut sama manusia kalau kagi sendiri di rumah, apalago sering nonton berita kriminal

  4. Semangat mba!! Aku juga terbiasa berani karena keadaan. Menjadi anak laki² satu² di sebuah keluarga dan sbg pengganti bapak hehe

  5. Bagus tulisannya, Kak Mia. Aku sebagai anak sulung dan sudah menikah, tetep merhatikan adik-adik. Karena bagaimanapun, sebagai anak perempuan satu2nya, aku srg dijadiin tempat curhat drpd bundaku. Well yeah, smg apapun status kita, kita bs memberikan yg terbaik utk diri, dan org sekitar. Smangaatttt

  6. Aku sama adekku beda 4 tahun, dia sering kugencet. Duh enggak layak jd pemimpin ini mah

    Beda 11, adiknya kecil mgkn beda bgt ya, Mbak. Jagainnya musti byk. Kaya aku sma ponakanku itu

    • ahaha beda 4 tahun udah kayakk temen sendiri itu mah ya. Iya, aku beda 11 tahun wkwk jauh ya. nanti ka Jiah kalau nikah jangan punya anak dengan jarak usia yang terlalu jauh yak hihi

    • iya, suatu saat nanti pasti harus memimpin dia, Kak. Aku sm dede sih deket, soalnya dirumah cuma ada dua anak yang tersisa haha. mungkin kalau abang belum menikah sih aku pasti jauh dr dede

  7. Miaaa.. maaf kelewat. :*
    Sebelas tahun jadi anak bungsu, lama juga yaaa.. Tapi pasti bisalahh kamu.
    Itu nanti bakal jadi bekal untuk membangun keluarga sendiri.
    Doa yang terbaik untuk kakaknya. Dan berusaha menjadi kakak yg terbaik untuk adiknya. 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*