Abstrak, Cerita Kita, Kehidupan, Perpisahan, Pilihan, Sajak, Waktu

Angin yang berbisik merdu pada hati.

Pada akhirnya kesendirian lah yang memenangi kompetisi perdebatan batin ini.

Tak mampu lagi berkata bahkan tertawa rasanya pun susah dilakukan.
Aku bisa apa jika semua dikuasai olehnya..

Menangispun tak ada gunanya. Apa mungkin hanya kematian yang mampu menyadarkannya?

Lelah menghantui namun hidup tak mungkin berhenti sampai sini saja.
Hidup bukan seperti cinta yang terbiasa bebas memutuskan dimana akhir cerita kisah mereka.
Aku bukan kamu, dan kamu tentu bukan aku.
Kita berbeda yang tak mungkin menyatu.
Namun saat ini, dimana aku dalam titik terendah kejiwaanku, aku merasa kehilanganmu.
Kehilangan cinta yang biasaku agung-kan.
Kehilangan cerita yang biasa ku bagi pada mereka.
Hati yang berbicara atau alam bawah sadarku yang tak mau berterus terang bahwa aku sangat merindukan belaianmu?
Masih dalam keadaan terendah dalam hidupku, aku merasa bahwa tak ada gunanya lagi hidup tanpamu.
Kenangan indah menyerbu menjadi satu bersama kenangan pahit masa lalu.
Kadang terbawa emosi hingga menangis tersedu, kadang pula aku lepas kendali tertawa mengenang semua.
Apa aku gila untuk yang pertama kalinya?
Gila karena keadaan yang tak sesuai dengan harapan atau keadaan yang sesuai dengan apa yang diimpikan oleh dua insan?
Bercermin pada air sama saja aku berkaca pada luka  didada.
Tak akan pernah terpecahkan cerita yang sampai saat ini masih kupertanyakan.
Apa aku gila untuk yang pertama kalinya karena cinta?
Ah cinta yang pernah ku agungkan nyatanya membawa malapetaka untuk diriku sendiri.
Tapi cinta selalu mebuatku tersenyum dan mengisi hari-hari bahagiaku.
Semua nya terlalu ikut campur hingga aku tak mampu menenangkan hatiku. Siapa aku yang berkata pada diriku sendiri.

Share

Leave a Reply