Abstrak, Cerita Kita, Kehidupan, Waktu, Writing

Di akhir Sya’ban, 11 tahun lalu

30 Sya’ban 1426 H.

Malam itu, ketika selesai shalat tarawih pertama sebagai pembuka bulan suci Ramadhan, Wanita itu hendak pergi belanja dengan berjalan kaki diiringi sang Pria dengan sepeda motornya.

Selesai berbelanja, Wanita dan sang Pria-nya berkunjung kerumah sanak keluarga untuk sekedar temu muka. Bercengkerama tentang kesehatannya serta perkembangan sang calon bayi yang memang hampir waktunya untuk segera menatap gemerlapnya dunia. Sembilan bulan, usia kehamilan itu sudah masuk pada bulan kesembilan, usia kandungan yang cukup bagi seorang calon bayi untuk terlahir kedunia.

Ketika hendak pulang, sang Wanita merasakan sakit, sakit yang teramat, sakit yang menandakan sang jabang bayi sudah waktunya untuk lahir. Sang Pria tidak panik, karena ini bukan kali pertama sang Wanita melahirkan buah cintanya. Sang anak pertama sudah berusia 17 tahun, dan anak kedua berusia 11 tahun.

Lahirlah sang anak perempuan pada malam hari, dengan berat pas-pasan, rambut lebat, dan tinggi semampai dari pasangan yang berbahagia melalui persalinan normal seorang wanita berusia empat puluh tahun.

Di waktu sahur, anak pertama dan sang Pria yang menyajikan mie instan tiga bungkus dan telur dadar. Sederhana, karena sang Wanita tidak mampu beraktifitas normal untuk memasak dan menyajikan makanan bagi keluarganya setelah persalinan.

Sang Wanita bukanlah seorang ibu rumahan yang berfokus pada keluarga, tapi adalah seorang wanita karir dengan pekerjaannya yang menuntutnya untuk harus segera masuk setelah masa cutinya habis. Lantas dengan siapa sang bayi perempuan kecil diasuh? Sang Wanita merekrut seorang asisten rumah tangga yang juga dikhususkan untuk mengasuh sang buah hati.

Sistem imunne seorang bayi yang belum sempurna, membawa penyakit itu bersarang, ketika sang pengasuh juga sakit.

Sang Bayi yang beranjak menjadi seorang balita, batuk dan pilek yang tak kunjung sembuh, hingga mengharuskannya untuk melakukan CT Scan di sebuah rumah sakit swasta, yang lalu dirujuk ke klinik dokter khusus anak.

Hasil diagnosa dokter anak menyatakan bahwa terdapat ‘flek’ di paru-paru sang balita, yang berarti sang balita harus melakukan penguapan guna menghilangkan lender dan minum obat selama enam bulan tanpa henti.

Seorang balita yang sudah berkutit dengan obat-obatan, keluar masuk laboratorium, berteman dengan jarum suntik dan bersahabat dengan dokter.

Sang Wanita hanya mampu tegar dan tabah menghadapi cobaan itu, karena kondisi sang Anak yang terlalu kurus, selalu menangis, dan tak henti minum obat dan periksa ke dokter. Sang Pria hanya bisa menemani dan tetap mencari nafkah bagi keluarga.

Sabar, ikhlas dan tawakal.

Sang pencipta tak akan pernah memberikan cobaan diluar kemampuan para hamba-Nya.

Pengobatan intensif selama enam bulan selesai, namun ternyata pengobatan itu harus diperpanjang, karena masih terdapat lendir yang menutupi paru-paru sang Balita.

Namun pada suatu hari, sang balita mengalami kejang-kejang tepat jam dua pagi ketika semua orang terlelap dalam tidurnya. Semua panik dan bingung, membuat sang Wanita menangis dalam Salawat yang tak henti dilantunkan. Maka diputuskan sang balita langsung dilarikan ke rumah sakit swasta terdekat tepat jam tiga subuh.

Setelah sang anak mendapat pertolongan pertama, kejang pada sang Balita akhirnya mereda, namun diagnosa dokter mengatakan bahwa sang Balita mengalami dehidrasi hebat, jika tidak langsung diberikan pertolongan pertama, bisa saja nyawanya melayang sia-sia. Semua terpukul, sang Wanita dan Pria-nya begitupula dengan anak-anaknya.

Demi sebuah kesehatan dan senyum manis sang balita perempuan, sang Wanita dan Pria tetap memberikan pengobatan yang terbaik. Demi masa depan, dan kelangsungan hidup bersama.

Tidak hanya keluarga yang beranggotakan lima orang ini, tapi sanak keluarga lainnyapun ikut membantu demi kesehatan sang Balita perempuan yang merupakan cucu terakhir dari orang tua sang Wanita.

Sang balita perempuan kini semakin tumbuh besar, memasuki usia sekolah dengan sistem kekebalan tubuh yang belum baik dan gigi yang menghitam akibat antibiotic yang dikonsumsi kurang lebih selama setahun.

Bukan berarti sang anak jauh dari obat-obatan, dokter selalu menganjurkan untuk segala jenis sakit yang dirasakan sang anak untuk segera diobati, belum lagi larangan untuk tidak makan ini-itu, minuman jenis ini-itu, udara yang seperti ini-itu, lingkungan yang seperti ini-itu. Semua larangan dilakukan agar sang anak tak lagi sakit.

Sakit yang mampu menahan senyumnya, sakit yang memberikan dampak buruk pada tubuhnya, dan sakit yang mampu mengganggu aktifitasnya.

Tahun demi tahun sang anak tumbuh menjadi gadis belia, tinggi melebihi sang Ibu, cantik yang mengalahkan sang Kakak, rambut tebal seperti sang Ayah, dan dagu belah delima seperti Alm. Rajiv Gandhi.

Sebelas tahun sudah usianya tepat pada hari ini diakhir bulan Sya’ban 1436 H.

Sebelas tahun lamanya keluarga bekerja keras demi menjaga kesehatan serta memberikan perhatian lebih padanya.

Tetaplah tumbuh dan berkembang layaknya anak seusiamu, de.

Semoga Allah selalu melimpahkan kesehatan dan rezeki kepadamu.

Depok, 29 Sya’ban 1436 H

With love,

Kakak yang nanti akan mengajakmu keliling dunia dan menjagamu dari pahitnya kehidupan.

Share

Leave a Reply