Odontektomi Gratis Pakai BPJS

Lebih baik sakit hati, daripada sakit gigi.

Siapa pejuang sakit gigi yang sering kali mengucapkan lantunan lagu ini? Angkat jari semuanyaaaa. Bagi beberapa orang, sakit gigi itu menyakitkan sekali, bikin sulit ngapa-ngapain, ngomong, makan, minum, sampai beraktivitas juga sulittt banget. Benar apa betul?

Tapi, kalau saya lebih baik sakit hati sih, karena sakit hati gak berhubungan sama jarum hahaha. Jujur, saya mah takut sama jarum atuh, vaksin aja nangis sesenggukan, tapi saya berani? BERANILAH, MIA GITULOH. Kalau nggak berani berhadapan sama jarum, gigi bakal terus sakit-sakitan, harus minum obat yang mana bisa aja berdampak buruk buat liver, itulah mindset yang saya tanamkan.

Sakit gigi ini menyiksaku

Sakit gigi saya dimulai sejak lama ya, karena gigi kanan saya sudah bolong dan ngilu buat digunakan makan maupun minum. Namun, saya tetap bertahan dengan menggunakan gigi sebelah kiri, eh taunya malah jadi bolong juga kan. Semenjak itu, selalu jaga kesehatan gigi, sikat malam sebelum tidur itu kewajiban. Dan tibalah pada tahun 2019, sebelum pandemi menyerang, gigi yang bolong itu, tepatnya gigi graham memberontak, membuat saya kesakitan.

Akhirnya memutuskan untuk ke dokter gigi, which is itu temen saya dan dilakukan penambalan, dari situ drama dimulai, padahal disuntik aja enggak, tapi saya nangis ya makkk, takuttt. Dipenghujung konsultasi hari itu, terdapat kesimpulan bahwa gigi saya ini harus dicabut, tapi ngggak bisa cabut biasa, harus OPERASI. Mendengar hal itu, saya langsung kicep dong. Padahal udah dibikin surat rujukan buat rontgen gigi. Saya menutup sesi itu dengan menuruti ketakutan saya. Iya, TAKUT JARUM SUNTIK.

Eh alahhhh, tahun 2021 sakit gigi ini kembali muncul kepermukaan, udah minum obat a, obat b, masih aja gak mereda sakitnya. Hal yang bikin nggak nyaman sakit gigi itu adalah susah makan dan mengunyah. Masalah tidur mah aman, aktivitas lain, amaannn. tapi kalau makan? Ku menangisssss. Ya kali ga makan, makin kurus yang ada tubuh ini yakannnn.

Dari sakit gigi kesekian kalinya, saya merasakan bahwa ini adalah waktu yang tepat untuk bergerak maju menuju ruang OPERASI GIGI. Iya, itu namanya odontektomi, sebuah tindakan bedah atau operasi SEDERHANA untuk mengeluarkan gigi bungsu yang impaksi. Jadi gimana, cukup menyeramkan bukan, tiduran dimeja operasi??? Kamu aja cuma bisa membayangkan, saya malah hampir mundur, karena saking takutnya disuntik apalagi pasang infus.

Apa itu Odontektomi

Odontectomy atau Odontektomi merupakan tindakan bedah atau operasi suatu tindakan bedah atau operasi sederhana yang dilakukan untuk mengeluarkan gigi bungsu yang impaksi.  Apa sih itu gigi impaksi? Nah, dilansir dari klinikjoydental, gigi impaksi itu adalah gigi yang tidak dapat keluar sempurna pada rongga mulut. Impaksi gigi ini bisa terjadi karena posisi gigi dan ruang pada lengkung rahang yang tidak memenuhi syarat untuk dapat tumbuh sempurna. Menurut teman saya, gigi yang impaksi kalau nggak segera dicabut, itu cuma nunggu kapan bakal sait dan menyiksa. Ah mantab!

Prosedur Odontektomi dengan BPJS

Pada awalnya saya juga nggak tau kalau operasi gigi pake BPJS itu gratis, jadi saya nanya temen, emangnya bisa kalau cabut gigi bungsu gini pake BPJS? Katanya Indonesia BISA! Lalu cari-cari info dan bertanya langsung ke twitter BPJS. Jika ada yang bertanya, mia bayar berapa operasi gigi pakai BPJS? Jawaban saya sangat lantang, GRATESSSSS. Akan tetapi, ada tetapinya nih, kamu harus melalui banyak perjalanan panjang yang cukup menyita waktu, menguras tenaga dan melatih kesabaran. Okelah, saya jelaskan bagaimana prosedur melakukan operasi odontektomi dengan BPJS Kesehatan.

  • Pastikan BPJS Kesehatan kamu AKTIF

Penting banget untuk selalu ngecek apakah BPJS kamu itu aktif atau nggak, kalau nggak aktif ya nggak bisa cetak kartu, maupun digunakan untuk berobat. Kalau kamu baru saja keluar dari keikutsertaan BPJS yang ditanggung perusahaan, you better hurry up untuk pindah kepesertaan guys. Karena kasus saya saat itu, enggak buru-buru pindah, sedangkan CS BPJS itu cuma senin-jumat di jam kantor pula. Sungguh menguras hati iniii.

  • Berobat ke Fasilitas Kesehatan Tingkat 1

Kamu harus berobat ke faskes 1 yang terdaftar di BPJS kamu. Kalau saya waktu itu ke puskesmas sawangan, yoi Sawangan Pride yang macetnya minta ampun. Jangan lupa cetak kartu BPJS-nya yah, jadi diawal pendaftaran kamu sebagai peserta BPJS di faskes 1. Tenang, gratis juga kok. Menunggu giliran, akhirnya bertemu dokter, saya ceritain keluhan saya a b c, saya juga cerita udah ke dokter gigi katanya harus operasi. Dan, akhirnya dibuatkan surat rujukan dengan dua pilihan rumah sakit yang bekerja sama, yaitu Rumah Sakit Hermina dan RSUD DEPOK. Dengan asas lokasi dan waktu yang lebih memungkinkan, akhirnya saya memilih RSUD yah guys.

  • Lanjutkan rujukan ke faskes lanjutan

Buat kamu warga Depok yang membaca ini, dan khususnya mau ke dokter gigi for the very first time, saya sarankan untuk pagi-pagi ambil antrian, lu jam 6 udah disana ye ges, karena kita sebagai pasien baru, nggak bisa tuh namanya daftar onlen. Dan diwajibkan untuk swab antigen. Untungnya saat itu, saya sudah dapat nomor antrian, dan tempat langganan antigen saya sudah buka. Dimudahkan jalannya, bukan?

Setelah menunggu sekian jam, akhirnya saya masuk ruang dokter gigi spesialisasi bedah mulut. Disuruh kumur-kumur, dicek, diliatin, ujungnya “ini harus dioperasi yah, tapi nggak bisa di sini, saya kasih rujukan yah”. Keluar ruangan, saya disuruh untuk menunggu lembar surat tujukan yang nantinya harus dibawa ke BPJS corner untuk dibuatkan. Pada detik ini, jangan lupa kamu searching dulu ya, rumah sakit mana yang paling memungkinkan dan enak gitu buat operasi gigi. Saat itu, saya dianjurkan untuk ke RSUI sama teman saya.

  • Welcome to RSUI

Surat rujukan dari faskes lanjutan harus wajib kamu bawa, dan punya fotocopy-nya yah. Ke RSUI nggak bisa langsung  datang, tapi kudu bikin appoinment via whatsapp bisnisnya, mau datang hari apa, ke dokter siapa, semuanya jelas. Saat itu, saya tidak memikirkan dokter mana yang bagus, yang ada di pikiran saya “dah lah ambil aja hari selasa biar gak kebanyakan ijin ke kantor” wkwkwkwkw

Pendaftaran pasien baru juga nggak dimintain biaya lho guys, dan berjalan dengan mulus. Setelah menunggu sekian banyak pasien, akhirnya nama saya dipanggil, trus dilakukan assesment, buat rekam medis.

Lucunya, pas dicek suhu itu 37.5, alias demam, padahal mah bukan perkara itu ya. Pas di pendafataran, kan agak panas ya, tubuh mengikuti suhu. Nah, pas di poli gigi, itu dingin bat ya ges, jadi tubuh saya memberikan perlawanan terhadap udara dingin dengan cara memanaskan badan, alhasil jadi tinggi tuh wkwkw. HADEUH TEORI SAYA SUKA MENGADA-NGADA

Di cek dari awal lagi yah, kumur-kumur, rebahan dikursi kesakitan wkwkw dan ya, ujungnya disuruh operasilah, masa enggak! Tapi, dari situ, dokter bertanya, mau cabut semua dengan bius total, atau bius lokal tapi waktu akan semakin banyak yang dikorbankan. Perdebatan batin antara takut disuntik dan efektivitas waktu sangat sengit saat itu, jadi harus dipikirkan dengan sangat matang. Sebelum keluar ruang pemeriksaan, dokter menyarankan untuk rontgen panoramic, tapi tidak bisa di RSUI. Harus diluar katanya.

  • Rontgen Gigi

Proses rontgen gigi apakah bisa di cover oleh BPJS? Jawabannya, bisa! Tapi, harus dari awal, alias ke faskes pertama atau lanjutan untuk meminta surat rujukan. Rasanya? Ah mantab! Tapi, demi mempersingkat waktu, saya lebih memilih untuk rontgen dengan biaya sendiri, karena waktu saya mahal bokkk, di oper kanan kiri dah kayak bola sepak. Rontgen gigi kali itu, saya memilih di RSU Bunda Margonda, karena satu jalur balik dari RSUI wkwkw dan memakan biaya sebesar 300rbuan, sudah termasuk dengan baiya pendaftaran pasien baru.

  • Kembali ke RSUI

Seminggu kemudian, saya kembali lagi ke RSUI, membawa hasil rontgen yang memberikan bukti nyata bahwa gigi graham bawah saya tumbuh tidak sempurna, ada yang melintang dan miring, keduanya BOLONG. Sebelumnya saya sudah berkonsultasi kepada temen saya ya, which one is better gitu loooo, bius total atau bius lokal. Tentu saja, saya mencoba menghindari agar tidak di infus gaessss. Itu buruk sekali di mata saya, nggak berani, takut, bahkan pas konsul aja saya nangis ya, takut anjirlah makkkkkkk

Dan yaudahlah, life must go on, saya bilang ke dokter kalau bius total jadi pilihan, dengan berbekal bismillah wkwkw. Ada beberapa catatan untuk operasi gigi dengan bius total menggunakan BPJS, yaitu

  1. Semua obat di cover, kecuali obat-obat tertentu
  2. Rawat inap selama 3 hari 2 malam, nggak bisa nego yah
  3. PCR pasien dan yang menunggu tidak di cover, emang dari dulu begindang
  4. Ada yang menemani sebagai pencegahan hal-hal yang tidak diinginkan, ini bisalah nego, kata temen juga “gapapa, sendiri juga bisa kok”

Setelah dibuatkan surat pengantar untuk operasi gigi, selanjutnya adalah menunggu kabar approved dari BPJS, jadwal berkunjung ke dokter anestesi, cek darah dan rontgen dada.

  • Hello again, RSUI

Akhirnya jadwal operasi, ke dokter anastesi, cek darah hingga rontgen dada keluar seminggu kemudian. Balik lagi ke RSUI dengan hati yang tak karuan, membawa bundelan surat rujukan dan rekomendasi ke bagian-bagian terkait, Ya Allah saya takut banget cek darah. Lagi dan lagi, kenyataan harus saya hadapi, semua ini harus cepetan kelar ya mia, jangan nyusahin orang. Detik-detik menegangkan akhirnya terjadi, saya harus CEK DARAH! ya Allah, jarum suntik segede gaban masuk kulit saya, menyedot darah itu. Saya menunda-nunda waktu agar “ntar dulu lah ngambil darahnya, gua takut ini” dan saat itu juga jujur ke mba-mba lab-nya kalau saya takut wkwkw sampe saya tanya, sakit gak sih, banyak gak yang diambilnya, nanti kalau berdarah terus-terusan gimana. ya intinya mengulur waktu hahaha. Dan menangislah saya, kata mba-nya “nangis aja, jangan ditahan”.

  • Masuk Rawat Inap dan persiapan Operasi Gigi Bungsu

The day is today! Luarnya sih bilang yuhuuuu, tapi dalemnya? Pengen pulang aja hahahahahaha. Prosedurnya cukup lama untuk masuk kamar, karena perlu dicek lagi ketersediannya he he he. Saya make sure terus-terusan, ini saya kapan di infus, eh ners-nya bi;ang “nanti pas mau operasi” ya Alhamdulillah gitu ya, masih bisa menenangkan diri. Day one, everything went well.

Day 2..semua berawal dari sini. Jadwal operasi hari itu jam 1 siang, jadi dari jam 7 saya sudah mandi dengan sabun khusus, lalu jam 8 saya sudah puasa makan tapi boleh minum, dan dari jam 11 siang sudah puasa minum. Kapan pasang infusnya? Ya itu jam 11, tapi sebelum itu, ada penderitaan yang lebih kejam, yaitu CEK ALERGI. Rasanya? Ah mantab sekali. Saya cuma bisa meringis ketakutan dan nahan sakit.

Setelah itu, berlanjut ke infusan. Saya chat temen saya, “KIH APA INI NANTI INFUSNYA ADA JARUM DITUBUH GUE KIH” sebegitu takutnya wkwkwkw maklum ya. Dan akhirnya, saya di infus….nangis? Pasti, nyeritain ini aja saya nangis hahahaha. Muka saya tutupin bantal biar nangisnya nggak kedengeran orang diluar, tangan saya 3 kali tusuk, gimana tuh rasanya? AH MANTAB. Setelah berhasil memasukkan jarum infus, penderitaan tidak sampai situ, ternyata…darah saya bercucuran ampe ners-nya aja kesulitan, banyak selotipnya.

  • Operasi Gigi Bungsu

Proses operasi gigi ini saya lakukan sendiri, sampai pas ners jemput unuk menuju ruang operasi nanya “ini gak ada yang nemenin?” GAK ADA LAH, MANG SAPA YANG NEMENIN. Memasuki ruang operasi, ada prosedular yang harus dilalui, yaitu transfer pasien, dan ganti baju dengan baju khusus. Dan tidak lupa kasih tau kalau saya punya alergi dingin yes, jadi dipakein penghangat gitu. Akhirnya tiba dimeja kesakitan, saya dibius rasanya seperti orang tenggelam dalam air.

operasi gigi

Dan sadar-sadar saya sudah di ruang pemulihan, sambil menggigit kasa di kanan dan kiri. Rasanya? Wew, nggak enak banget,  mau ngomong susah, tenggorokan sakit, kering, rasanya udah mau buka itu kasa deh. Tapi, kasa itu untuk menghentikan pendarahan lho, biar beku darahnya. Lagi-lagi, saya dicek suhu, suhunya masih tinggi padahal demam aja enggak. Kalau bertanya mengapa, baca aja tuh teori nggak jelas saya diatas.

Akhirnya saya kembali ke ruang inap setelah menunggu 2 jam nggak dijemput-jemput oleh orang ruangan, dengan masih sambil mengigit kasa yang sudah diganti, pipi bengkak, dan rasa ingin makan-minum. Setelah tidur seharian dan rasa nyeri yang sudah diatasi, saya akhirnya pulang ke rumah pada hari ketiga. Proses kepulangan juga cepat dan hanya ada 1 obat yang tidak di cover oleh BPJS untuk ditebus di apotek lain.

Jadi, operasi gigi bungsu yang impaksi atau odontektomi menggunakan BPJS itu gratis gaes. Saya cuma keluar biaya PCR dan Rontgen gigi, dengan total sekitar 600k dan tebus obat seharga seratus ribuan. Perihal alurnya, saya sih no comment ya, kamu bisa baca sendiri gimana rasanya hehe, jangan lupa juga mampir ke IG highlight saya perihal operasi gigi ini.

Ketakutan itu memang nyata, tapi ya harus dihadapi entah bagaimana caranya, baik itu menangis, berteriak, meronta, yang penting tanamkan bahwa ketakutan ini akan segera berlalu.

Takut jarum suntik? Itu wajar. Jangan coba menyepelekan, karena nanti yang ada, saya sepelekan ketakutan terparah kamu hahaha. Menangislah dan hadapi semuanya. Tuhan bersama hambanya yang mampu melewati segala proses kesakitan.

Kesakitanku mungkin biasa bagimu, tapi tidak bagiku. Semua orang punya porsinya masing-masing dan jangan pernah menyepelekan itu. Cukup hormati, bersimpati, dan mendoakan, tanpa perlu membandingkan dengan diri kamu sendiri maupun orang lain.

Yuk, operasi gigi bungsu kamu yang impaksi biar efeknya nggak domino untuk kehidupan dan aktivitas harian kamu.

Special thanks to drg. Sinebar Sekar dengan nama kerennya dokter sekar wkwkwk, yang selalu menguatkan saya dalam proses operasi ini, mendengarkan keluh kesah serta berbagai macam pertanyaan nggak jelas. Kebaikan menyertaimu, kebahagiaan selalu meliputimu, dan rejeki selalu mengalir untukmu.

Much Love,

MF.

13 Replies to “Odontektomi Gratis Pakai BPJS”

  1. pernah merasakan sakitnya waktu tumbuh gigi bungsu
    terus pernah jg gigi bungsu berlobang dan ditambal
    cuma beberapa tahun eh bolong lagi dan harus dicabut
    karena kondisi ga memungkinkan untuk operasi kecil di RS demi mempertimbangkan waktu..ke klinik aja..lumayan jg bayarnya hehe

  2. Alhamdulillah, saya sangat bersyukur dengan kehadiran bpjs bisa membantu dalam mengurangi beban biaya ketika berobat ke fasilitas kesehatan, saya pernah punya pengalaman operasi kecil menggunakan bpjs.

    Kala itu muncul benjolan kecil di sudut mata, yg mana semakin lama semakin tumbuh dan mengganggu keberadaannya, dan ketika periksa ke klinik kesehatan dgn bpjs, saya malah mendapatkan surat rujukan ke rumah sakit untuk segera melakukan operasi. Alhamdulillah operasi lancar, dan alhamdulillahnya lagi semua itu gratis, tanpa dipungut biaya.

  3. aku bacanya sambil ikut ngerasain sakitnya loh.wkwk aku kalau sakit gigi bawaannya pengen nangis terus soalnya ngilu nya itu loh gak kuat. tapi alhamdulillah setelah aku cabut gigi udah nggak pernah ngerasain sakit gigi lagi. semoga sehat terus dan semoga nggak ada yang namanya sakit gigi lagi atau kambuh yaaa

  4. Mohon info mbak, apa dijahit jg bekas cabutan giginya? Trus pasca tindakan apa ada tindakan lagi utk copot jahitannya?
    Terima kasih

    • halo, betul banget. bekas dicabut akan dijahit, lalu nanti akan dibuka lagi benang jahitannya hehe. tapi untuk beberapa rumah sakit kayaknya ada yang gak perlu di lepas jahitannya. semoga membantu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*