Tuhan, Aku Lelah.

Ada saatnya tangis tak terbendung, dan sendu menyelimuti.
Ada kalanya sakit hati ini kembali dan ada kalanya sakit hati ini lenyap meski berbekas.
Bukan aku yang menyebabkan semua ini, tapi mereka yang menciptakannya.
Aku sudah mencoba untuk rendah diri tidak meminta hati, tapi mereka selalu memberi tanpa arti.
Bukan, bukan untuk aku. Tapi untuk dia. Dia yang akan menjadi tanggungan jiwa dan menjadi penerang bangsa.
Aku sudah mencoba untuk melerai, tapi ternyata hati berkata lain.
Tangisku pecah, hatiku hancur dan kepala ini hendak meledak menjadi satu ledakan maha dahsyat.
Tinta ini kugoreskan, karena tak ada tempat terbaik selain kertas putih bergaris.
Pernah ku bilang, jika hati ini meledak, semuanya akan berdampak pahit getir dan perpecahan diseluruh ruang waktu.
Aku tak mampu menahannya, aku tak sanggup menerimanya.
Rendah diri ini dipandang sebelah mata oleh mereka. Padahal mereka tak tahu apa yang sebenarnya yang terjadi dalam jiwa.
Aku penyeimbang antara semua jaringan, aku yang menerima segala konsekuenainya.
Resiko menyakitkanpun tetap aku terima.
Bukan, bukan aku menyerah. Tapi aku hanya tak mampu.
Mereka yang menganggapku bergelimpangan harta, nyatanya aku bukan apa-apa.
Lelah, letih, pedih, perih.
Biarkan aku pergi kali ini saja, karena takkan pernah bisa aku ulangi untuk kedua kalinya.
Aku tersiksa, itu sudah biasa.
Aku menderita, itu sudah menjadi kebiasaan.
Aku menangis, itu adalah hal yang tak dapat dipungkiri.
Tuhan, aku lelah.
Tuhan, aku lelah.
Tuhan, aku lelah.

12 Replies to “Tuhan, Aku Lelah.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*